7/24/11

KD 2.1 Berwawancara dengan Narasumber dari Berbagai Kalangan dengan Perhatikan Etika Berwawancara

WAWANCARA
Wawancara adalah suatu cara untuk mengumpulkan data dengan mengajukan pertanyaan lang-sung kepada narasumber /orang yang memberi informasi (Kramadi-brata,2008:63). Menurut Hariningsih (2008:17) wawancara adalah tanya jawab antara pewawancara dan seorang pakar atau ahli untuk menda-patkan informasi tentang suatu hal. Lebih lanjut Wirajaya (2008:10) berpendapat, wawancara memiliki unsur-unsur yang harus terpenuhi. Jika salah satu unsur tersebut tidak ada, maka wawancara tersebut tidak dapat dilakukan. Adapun unsurunsur tersebut sebagai berikut.
1. Pewawancara atau orang yang mencari informasi yang berkedudukan sebagai
penanya.
2. Narasumber atau informan atau orang yang diwawancarai. Dalam hal ini,
narasumber atau informan berkedudukan sebagai penjawab pertanyaan atau pemberi
informasi. Narasumber yang diwawancarai biasanya merupakan seseorang yang
memiliki keterkaitan dengan perihal informasi yang diperlukan.
Dalam hal ini, narasumber dapat berupa tokoh, ahli, atau orang biasa.
3. Tema atau perihal yang diwawancarakan. Tema sangat berperan dalam
kegiatan wawancara. Dalam hal ini, tema menjadi pokok sekaligus pembatasan
hal-hal yang dibicarakan.
4. Waktu atau kesempatan dan tempat.

Beberapa hal yang perlu dipersiapkan sebelum berwawancara dengan narasumber adalah berikut.
1. Penguasaan materi, berkenaan dengan tema dan poin-poin permasalahan
penting yang akan ditanyakan.
2. Mempersiapkan pertanyaan-pertanyaan berkenaan dengan informasi yang
diperlukan.
3. Mempersiapkan diri secara mental untuk mengantisipasi hal-hal yang tidak
diinginkan, misal: grogi atau nervous.
4. Mempersiapkan peralatan yang diperlukan untuk berwawancara, misal: alat rekam
atau alat tulis.

Pewawancara harus memahami etika berwawancara. Etika berwawancara di antaranya seperti berikut.
1. Mengucapkan salam, memperkenalkan diri, dan berterima kasih atas kesempatan yang
diberikan.
2. Menggunakan bahasa yang santun.
3. Menyampaikan pertanyaan secara sistematis dan urut.
4. Fokus pada materi wawancara.
5. Tidak menyudutkan narasumber dan tidak membuat tersinggung.
6. Tidak memancing pertanyaan yang menjurus pada fitnah atau mengadu domba.
7. Bersikap objektif dan simpatik.

Narasumber adalah tokoh masyarakat atau seseorang yang mempunyai keahlian di bidang terten-tu dan mempunyai kemampuan menerangjelaskan hal-hal yang diketahuinya (Suwandi,2008:86). Proses melaku-kan wawancara dilakukan dengan beberapa tahapan. Meskipun tahapan itu bukan merupa-kan tahapan baku, paling tidak tahapan-tahapan itu bisa menjadi pemandu kalian dalam berwawancara agar bisa berhasil.
a. Pendahuluan
Pewawancara membuat janji dulu dengan narasumber, kapan dan dimana narasumber bersedia diwawancarai. Jangan lupa sampaikan tujuan wawancara kepada narasumber.
b. Pembukaan
Awalilah dengan pembicaraan ringan, seperti menanyakan kabar dan kondisi narasumber serta tunjukkan sikap yang ramah dan bersahabat.
c. Tahap inti
Ajukan pertanyaan secara urut, singkat, dan jelas. Lakukan perekaman selain pencatatan. Hindarilah pertanyaan yang memojokkan atau menginterogasi.
d. Penutup
Akhiri wawancara dengan kesan yang baik dan menyenangkan. Jangan lupa ucapkan terima kasih atas waktu dan kesediaan narasumber diwawancarai (Maryati, 2008:35).

Sedangkan menurut Kramadibrata (2008:65) untuk melaksanakan tugas wawancara perlu langkah-langkah yang dapat dijadikan rambu-rambu seperti berikut.
1. Susunlah tema atau masalah yang akan ditanyakan. Contoh: teater di sekolah,
kegiatan karang taruna.
2. Menentukan orang yang tepat untuk diwawancarai sesuai dengan tema yang
dirumuskan. Contoh:
pembina OSIS, ketua karang taruna.
3. Menyusun daftar pertanyaan. Agar bisa merumuskan pertanyaan dengan baik, kamu
harus menguasai seputar materi yang akan ditanyakan. Untuk itu, kamu harus
mempelajari tema/masalah yang diangkat.
Contoh: Bagaimana kiat Bapak untuk memajukan teater di sekolah kita?
Dari mana pendanaan kegiatan karang taruna selama ini?
4. Ada baiknya kamu membuat janji pertemuan dengan narasumber biar ada persiapan
sebelumnya.
5. Siapkan peralatan yang dibutuhkan, di antaranya bolpoin, buku, bila perlu
membawa alat perekam dan kamera.
6. Saat melakukan wawancara kamu harus memerhatikan etika berbicara, bersikaplah
sopan dan ramah. Perkenalkan diri dan jelaskan tujuan wawancara. Apabila akan
menggunakan alat perekam atau kamera, mintalah izin terlebih dahulu.
7. Catatlah hal-hal penting yang disampaikan oleh narasumber. Berkonsentrasilah
mendengarkan informasi. Hindari mengulang-ulang pertanyaan. Ini menunjukkan
kekurangsiapanmu dalam berwawancara.
8. Akhiri wawancara dengan senyum dan ucapan terima kasih.
9. Buatlah laporan hasil wawancara tersebut dan sampaikan di depan kelas.

Pendapat Laksono (2008:69) tentang wawancara sebagai berikut.
a. Wawancara adalah kegiatan antara dua orang atau lebih. Seorang sebagai
pewawancara dan satu atau beberapa orang sebagai narasumber.
b. Dalam berwawancara harus diperhatikan penggunaan kata sapaan.
c. Pertanyaan yang diajukan dalam wawancara haruslah sesuai dengan tujuan wawancara
dan siapa yang diwawancarai.

Kata sapaan adalah kata yang digunakan langsung untuk menyapa lawan bicara. Kata sapaan terdiri atas (1) sapaan kekerabatan (Bapak, Ibu, Saudara, Kakek, Nenek, Kakak, Adik, Abang), (2) sapaan jabatan (Dokter, Suster, Letnan, Profesor, Kapten), (3) sapaan sosial (Tuan, Nyonya), dan (4) sapaan pronomina persona orang kedua (Anda, kamu).
Penggunaan jenis sapaan ditentukan oleh umur, status sosial/jabatan, dan tingkat keakraban. Contoh, kata sapaan kamu digunakan untuk orang yang setara/lebih muda yang sudah akrab, sedangkan Bapak atau Ibu digunakan jika orang yang bertanya lebih muda/lebih rendah statusnya daripada yang ditanya.

DAFTAR PUSTAKA
Hariningsih, Dwi dkk. 2008. Membuka jendela ilmu pengetahuan dengan bahasa dan
sastra Indonesia 2: SMP/MTs Kelas VIII
. Jakarta: Pusat Perbukuan,
Departemen Pendidikan Nasional.

Kramadibrata, dewaki dkk. 2008. Terampil berbahasa Indonesia: untuk SMP/MTs
kelas VIII
. Jakarta: Pusat Perbukuan, Departemen Pendidikan Nasional.

Laksono, Kisyani. 2008. Contextual Teaching and Learning Bahasa Indonesia:
Sekolah Menengah Pertama/Madrasah Tsanawiyah Kelas VIII Edisi 4
.
Jakarta: Pusat Perbukuan, Departemen Pendidikan Nasional.

Maryati dan Sutopo. 2008. Bahasa dan sastra Indonesia 2: untuk SMP/MTs kelas
VIII
. Jakarata : Pusat Perbukuan, Departemen Pendidikan Nasional.

Suwandi, Sarwiji dan Sutarmo. 2008. Bahasa Indonesia 2: Bahasa Kebanggaanku
untuk SMP/MTs Kelas VIII.
Jakarta: Pusat Perbukuan, Departemen
Pendidikan Nasional.

Wirajaya, Asep Yudha dan Sudarmawarti. 2008. Berbahasa dan Bersastra Indonesia 2
: Untuk SMP/MTs Kelas VIII
. Jakarta: Pusat Perbukuan, Departemen
Pendidikan Nasional.

No comments:

Post a Comment