Guru dalam Pembelajaran Kurikulum 2013
Oleh Nyamat
Sejumlah
guru di sekolah percontohan Kurikulum 2013 belum seluruhnya mengubah pola
mengajar (SM, 7/7/14). Padahal pembelajaran Kurikulum 2013 mengamanatkan esensi
pembebelajaran menggunakan pendekatan saintifik
dalam proses pembelajaran di kelas. Proses kerja pendekatan tersebut perlu
memenuhi kriteria ilmiah yang mengedepankan penalaran induktif (inductive reasioning) dibandingkan
dengan penalaran deduktif (deductive
reasioning). Penalaran induktif menempatkan bukti-bukti spesifik ke dalam
relasi idea yang lebih luas, merujuk pada teknik investigasi atas suatu atau
beberapa fenomena atau gejala, memperoleh pengetahuan baru (method of inquiry) harus berbasis pada
bukti-bukti dari objek yang dapat diobservasi, empiris, dan terukur dengan
prinsip-prinsip penalaran yang spesifik.
Peran guru
pada pendekatan saintifik sebagai
fasilitator perlu memberi fasilitas pada peserta didik untuk mengamati,
menanya, mengumpulkan informasi, mengasosiasi, dan mengkomunikasikan. Dalam
kegiatan mengamati, guru membuka secara luas dan bervariasi kesempatan peserta
didik untuk melakukan pengamatan melalui kegiatan melihat, menyimak, mendengar,
dan membaca. Guru memfasilitasi peserta didik untuk melakukan pengamatan,
melatih mereka untuk memperhatikan hal yang penting dari suatu benda atau
objek. Tanpa fasilitasi tersebut pengamatan peserta didik kurang terarah dan
tidak tahu mana yang bagian utama objek pengamatan dan bagian pelengkap objek
pengamatan.
Kegiatan
menanya, fasilatsi guru yaitu membimbing peserta didik untuk dapat mengajukan
pertanyaan tentang hasil pengamatan objek yang konkrit sampai kepada yang
abstrak berkenaan dengan fakta, konsep, prosedur, atau pun hal lain. Pertanyaan
bersifat faktual dan hipotetik. Peserta didik perlu dikembangkan rasa ingin
tahu yang menjadi dasar untuk mencari informasi lebih lanjut dan beragam dari
sumber yang ditentukan guru sampai sumber yang ditentukan sendiri oleh peserta
didik.
Fasilitasi
guru dalam kegiatan mengumpulkan informasi dan mengasosiasi yaitu mengarahkan
peserta didik untuk membaca buku dan sumber lain (media massa baik cetak maupun
elektronik) yang lebih banyak. Dari kegiatan tersebut akan terkumpul informasi
yang menjadi dasar untuk memproses informasi ada tidaknya keterkaitan satu
informasi dengan informasi lainnya, bahkan mengambil berbagai kesimpulan dari
pola yang telah ditentukan.
Sedang
kegiatan mengomunikasikan, peserta didik perlu difasilitasi guru untuk
menuliskan atau menceritakan apa yang ditemukan. Bagaimana isi dan mekanik
tulisan peserta didik supaya runtut, santun, baik, dan benar. Pra penulisan,
pelaksanaan menulis, serta pasca penulisan perlu difasilitasi guru dengan
bimbingan, dalam menunting dan mengedit, serta ditindaklanjuti jika ada
kekurangannya. Fasilitasi guru dalam siswa menceritakan atau mempresentasikan
hasil tulisan yaitu dengan membimbing penjedaan, olah vokal (lafal dan
intonasi), mimik, gesture, maupun
mental peserta didik.
Semua
fasilitasi guru di atas dilandasi pentingnya pendekatan saintifik yang merupakan penyempurnaan pembelajaran CBSA pada KTSP.
Dalam menfasilitasi peserta didik, guru mengarahkan dan membimbing peserta didik secara aktif untuk menemukan sendiri hasil
belajarnya.
Nyamat, M.Pd., Guru SMP Negeri 3 Pati
e-mail: nyamatmpd@gmail.com
No comments:
Post a Comment